Seni sebagai Suara Inklusi: Kisah Atlet dan Seniman Menyulam Harapan di Special Olympics Turin 2025

Di atas panggung Armani/Teatro, sebuah Vespa Primavera Electric berwarna cerah terpajang dengan lukisan tangan yang memukau. Karya itu bukan hanya hasil tangan seniman ternama seperti Urs Fischer atau Frank Gehry, tetapi juga sentuhan Ilaria ‘Ghinka’ Bonanni, atlet Special Olympics Italia. Inilah simbol dari malam penggalangan dana untuk Special Olympics World Winter Games Turin 2025: di mana batas antara seni, olahraga, dan kemanusiaan luluh menjadi satu narasi tentang kekuatan inklusi.

Ilaria Bonanni, atlet dengan disabilitas intelektual, berdiri bangga di samping Vespa yang ia lukis bersama Fischer dan Gehry. “Merancang Vespa membuat saya merasa seperti bangsawan,” ujarnya. Sepeda motor ikonis Italia itu menjadi kanvas bagi cerita mereka—tentang gerakan, kebebasan, dan kebahagiaan. Tak hanya Vespa, helm bertema khusus yang dilukis para atlet turut dilelang, mengubah keterampilan mereka menjadi mahakarya yang bernilai ratusan juta rupiah.

“Ini bukan sekadar lelang. Ini tentang memberi panggung pada suara yang sering tak terdengar,” kata Mary Davis, CEO Special Olympics. “Setiap goresan warna pada Vespa ini adalah bukti bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, memiliki keindahan untuk ditawarkan.”

Malam itu, Giorgio Armani tak hanya menyediakan lokasi eksklusif. Gaun bustier dari koleksi Fall 2024-nya menjadi salah satu barang lelang termahal, sementara bench Technogym rancangan Dior menjembatani dunia fitness dan haute couture. Namun, yang paling menyentuh adalah pengalaman “membuat sepatu custom” dari Berluti—sebuah metafora tentang bagaimana setiap langkah manusia layak dihargai, meski berbeda ukuran atau bentuk.

“Saya selalu percaya bahwa olahraga adalah cermin terbaik dari kemanusiaan,” ujar Armani. “Di sini, kami tidak hanya merayakan desain, tetapi juga keberanian para atlet yang menginspirasi kami untuk melihat dunia dengan mata yang lebih lembut.”

Piaggio Group, melalui Vespa, tak sekadar menyumbang produk. Mereka melibatkan para atlet dalam proses kreatif, sebuah langkah yang menurut CEO Michele Colaninno “menciptakan percakapan antara seni dan empati.” Sementara Bank of America, yang telah mendukung Special Olympics selama 40 tahun, melihat acara ini sebagai bagian dari misi global: memutus stigma seputar disabilitas melalui pendekatan multidimensi.

“Ini bukan charity biasa. Ini investasi pada manusia,” tegas Antonino Mattarella dari Bank of America. “Ketika seorang atlet berlari di lintasan atau melukis Vespa, mereka mengajarkan kita tentang ketahanan—sesuatu yang tak ternilai.”

Special Olympics World Winter Games Turin 2025 mungkin telah usai, tetapi dampaknya masih bergema. Dari 1.500 atlet dari 102 negara, hingga 2.000 relawan yang bekerja tanpa lelah, ajang ini meninggalkan warisan: bahwa inklusi bisa diciptakan melalui cara tak terduga—seperti sepeda motor yang menjadi simbol harapan, atau gaun mewah yang mengubah malam biasa menjadi panggung solidaritas. “Kami tidak ingin ini hanya jadi acara satu malam,” ujar Urs Fischer. “Setiap karya yang terjual adalah pengingat: kebahagiaan sejati lahir ketika kita memberi ruang bagi semua orang untuk bersinar, dengan caranya sendiri.”

Di tengah gemerlap Turin, malam itu mengajarkan satu hal: inklusi bukanlah konsep abstrak. Ia hidup dalam setiap sapuan kuas Ilaria, dalam desain Vespa yang berani, dan dalam gaun Armani yang terjual untuk kemanusiaan. Special Olympics World Winter Games 2025 tidak hanya tentang olahraga—ini tentang membangun dunia di mana perbedaan bukanlah penghalang, melainkan warna yang memperkaya kanvas kehidupan.

Seperti kata Bonanni, “Saya tidak pernah menyangka bisa menjadi bagian dari sejarah. Tapi di sini, kami semua adalah seniman—dengan cara kami sendiri.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *