Huawei ICT Competition 2025: Membangun Talenta Digital untuk Masa Depan Asia Pasifik

Di era Revolusi Industri 4.0, kebutuhan akan talenta digital semakin mendesak. Huawei ICT Competition 2024-2025 bukan sekadar ajang unjuk kemampuan, tetapi juga bagian dari strategi besar dalam membangun ekosistem teknologi yang siap mendukung transformasi ekonomi kawasan. Dengan melibatkan 8.000 mahasiswa dari 20 negara—meningkat 25% dari tahun sebelumnya—kompetisi ini menegaskan posisi Asia Pasifik sebagai pusat inovasi global sekaligus menjawab tantangan kesiapan SDM menghadapi disrupsi digital.

Sebagai ajang yang diselenggarakan oleh Huawei dan ASEAN Foundation, kompetisi ini dirancang untuk memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa dalam empat bidang utama: Networking, Computing, Cloud, dan Innovation. Keberhasilan Institut Teknologi Bandung (ITB) di kategori Network Track dan Dr. Husni Teja Sukmana (APTIKOM) dalam Teaching Competition membuktikan bahwa dunia akademik dan industri semakin selaras dalam mencetak tenaga kerja yang siap terjun ke dunia nyata. “Kompetisi ini lebih dari sekadar menguji teori. Kami mendorong peserta untuk menciptakan solusi nyata bagi permasalahan global, seperti efisiensi energi, telemedisin, dan smart city,” ujar Alex Zhang, Wakil Presiden Huawei Asia Pasifik dalam siaran pers, Kamis (6/5/2025)

Agar lebih inklusif, Huawei agresif mengadaptasi materi pelatihan ke bahasa lokal dan menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik di tiap negara. Beberapa inisiatif utama meliputi: Modul berbahasa Indonesia dan Thailand untuk memastikan aksesibilitas di daerah non-urban. Sertifikasi ganda (Huawei dan pemerintah Thailand) untuk teknisi panel surya dan jaringan.nPelatihan AI dan komputasi awan berbasis studi kasus lokal, seperti optimisasi logistik pertanian di Laos. Dampaknya sudah terlihat, dengan lebih dari 300 lulusan bersertifikat internasional di Thailand, di mana 85% di antaranya langsung terserap ke industri.

Kompetisi tahun ini juga menyoroti dua agenda strategis: peningkatan peran perempuan di bidang teknologi dan inovasi hijau. Beberapa penghargaan khusus diberikan untuk mendukung misi ini: Women in Tech Award untuk Universiti Malaya (Malaysia), guna meningkatkan partisipasi perempuan di sektor TIK yang masih di bawah 30% di ASEAN. Green Development Award untuk Universiti Teknologi Brunei, atas inovasi dalam mengurangi emisi karbon di sektor energi. “Kami tak hanya mencetak programmer, tetapi juga pemimpin yang memiliki kepekaan terhadap isu sosial dan lingkungan,” ungkap Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation.

Ekspansi Huawei ICT Academy ke 340 universitas di 18 negara telah menciptakan jalur berbagi pengetahuan antara Asia Pasifik dan Shenzhen—pusat inovasi global. Pemenang seperti Institute of Technology of Cambodia (Kamboja) dan Posts and Telecommunications Institute of Technology (Vietnam) akan mendapatkan mentorship langsung dari R&D center Huawei, membekali mereka dengan wawasan dan keterampilan untuk menjadi pionir di negara masing-masing.

Data Huawei menunjukkan bahwa 72% alumni kompetisi kini menempati posisi strategis di perusahaan rintisan, BUMN, atau bahkan mendirikan startup sendiri. Contohnya adalah Aria Wijaya, finalis kompetisi tahun 2022 asal Indonesia, yang kini menjadi pendiri SolarNusantara, sebuah platform monitoring PLTS yang mampu mengurangi biaya operasional hingga 40%. “Kompetisi ini bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga bagaimana kami dapat menginkubasi proyek-proyek terbaik menjadi solusi komersial,” kata Zhang.

Meskipun sukses, ada beberapa tantangan yang harus diatasi: Ketergantungan pada teknologi Huawei, dengan 60% materi berbasis teknologi proprietary. Brain drain, di mana talenta terbaik lebih memilih bekerja di perusahaan multinasional daripada kembali ke daerah asal. Untuk mengatasi hal ini, Huawei meluncurkan program Digital Homecoming, yang memberikan beasiswa bagi pemenang untuk mendirikan startup di kota kelahiran mereka, dengan dukungan jaringan mitra lokal.

Huawei menargetkan pembukaan 100 akademi baru di Asia Pasifik hingga tahun 2026, membentuk jalur pengembangan talenta digital yang akan menentukan masa depan teknologi kawasan ini. Kompetisi ini hanyalah langkah awal, di mana pendidikan, industri, dan kebijakan bertemu untuk membangun ekonomi digital yang inklusif, berkelanjutan, dan mandiri.

Dr. Azlinda Azman, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Malaysia, menegaskan, “Talenta adalah mata uang baru ekonomi digital. Kolaborasi seperti ini bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan.” Dengan 35 tim Asia Pasifik bersiap menuju Final Global di Shenzhen, pesan yang disampaikan jelas: Masa depan teknologi tidak lagi didikte oleh Barat atau Timur, tetapi oleh kolaborasi cerdas dan visioner dari kawasan Asia Pasifik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *