Suara dengungan mesin tiba-tiba memecah kesunyian malam di bengkel kecil Chery. Sorot mata lelah para insinyur tiba-tiba berbinar: mesin pertama mereka hidup! Sebuah pencapaian yang terasa mustahil bagi startup otomotif asal Tiongkok ini, yang hanya bermodal tekad dan mimpi besar. Dua puluh lima tahun kemudian, detak “jantung” buatan tangan itu telah bertransformasi menjadi Chery Super Hybrid (CSH) – teknologi yang menggetarkan pasar elektrifikasi global.
Di era 1990-an, industri otomotif didominasi raksasa seperti Toyota dan Volkswagen. Tapi di kota Wuhu yang sepi, Yin Tongyue – sang pendiri Chery – memilih jalur berliku: membangun mesin sendiri. Tanpa paten, dana minim, dan rantai pasokan yang compang-camping, tim kecil Chery bekerja dalam gelapnya ketidaktahuan. “Kami seperti anak kecil yang mencoba merakit pesawat luar angkasa hanya dari gambar kertas,” kenang Liu, salah satu insinyur generasi pertama Chery (nama samaran). “Tapi setiap kegagalan adalah guru. Mesin pertama yang kami uji meledak tiga kali sebelum akhirnya berfungsi.” Perjuangan 500 hari itu bukan sekadar soal menciptakan mesin. Ini adalah deklarasi perang terhadap status quo: inovasi atau mati.
Pada 2024, dunia otomotif terhenyak. Chery, yang dulu dianggap underdog, menduduki podium dengan penjualan 2,6 juta unit – melesat 38,4% dalam setahun. Kunci keberhasilannya? Chery Super Hybrid, teknologi hybrid cerdas yang lahir dari ribuan jam riset. “CSH bukan produk instan. Ini akumulasi 27 tahun penguasaan mesin konvensional, dikawinkan dengan kecerdasan elektrifikasi,” papar Rifkie Setiawan, Head of Brand Department Chery Indonesia.
Teknologi ini memungkinkan efisiensi bahan bakar hingga 50% lebih irit dibanding hybrid konvensional, dengan kemampuan switching listrik-BBM yang seamless. Sebuah jawaban atas dilema dunia: bagaimana transisi ke elektrifikasi tanpa mengubur warisan mesin pembakaran dalam. “Kami tak ingin jadi pengikut. CSH dirancang untuk mengalahkan hybrid Jepang dan menyaingi EV murni Tesla,” tegas Yin Tongyue CEO Chery Automobile Co Ltd dalam wawancara eksklusif. Ambisi ini terwujud dalam model seperti OMODA 5 Hybrid yang menyedot 40% penjualan Chery di Eropa.
Kantor pusat Chery di Wuhu menyimpan “ruang hantu” – museum berisi mesin-mesin gagal era 1990-an. “Ini pengingat: kesuksesan hari ini dibangun di atas puing-puing kegagalan kemarin,” ujar Manajer R&D Chery.
Budaya ini melahirkan generasi insinyur “nakal”. Seperti tim yang nekat membongkar 30 mesin kompetitor untuk mempelajari kelemahannya, atau eksperimen bahan bakar alternatif dari limbah pertanian Anhui.
Peta jalan Chery mengincar 40% penjualan global dari kendaraan listrik pada 2030. Kini, mereka sedang membangun “Megafactory” hybrid pertama di Asia Tenggara – investasi senilai USD 1,2 miliar yang akan menjadi markas CSH untuk pasar tropis. “Kami belajar dari kesalahan masa lalu. Jika dulu kami kewalahan membuat satu mesin, kini kami bisa meluncurkan 5 platform elektrifikasi sekaligus,” tandas Yin.