Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2028-2029, dengan transisi energi sebagai kunci pencapaiannya. Namun, Kementerian Keuangan mengungkap tantangan besar: dari total kebutuhan pendanaan transisi energi sebesar US$280 miliar (Rp4.200 triliun) hingga 2030, hanya 30% yang dapat dipenuhi melalui APBN. Sisanya, sekitar US$ 196 miliar, harus ditutup oleh swasta dan lembaga keuangan. Di tengah kesenjangan ini, PT Bank DBS Indonesia muncul sebagai salah satu pemain kritis, membuktikan bahwa inovasi finansial dan kolaborasi strategis mampu menggerakkan roda ekonomi hijau yang inklusif.
Sepanjang 2024-2025, DBS Indonesia mencatatkan peningkatan 14,8% pada portofolio pendanaan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) atau Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB). Instrumen seperti Sustainability-Linked Loan (SLL), Green Loan, dan Sustainability-Linked Trade Facility (SLTF) menjadi andalan. Contohnya, SLTF senilai US$20 juta untuk PT Indo-Rama Synthetics, produsen polyester yang berkomitmen mengurangi jejak karbon, serta SLL Rp350 miliar kepada PT CJ Feed & Care Indonesia untuk memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 25% pada 2030. Tak hanya itu, fasilitas pendanaan US$50 juta untuk Permata Group juga memperkuat produksi biodiesel sebagai alternatif energi bersih. “Pendanaan berkelanjutan bukan hanya tentang profit, tapi tentang menjadi katalis menuju Net Zero Emission 2060. Kami berkomitmen menyediakan solusi yang selaras dengan target nasional,” tegas Kunardy Lie, Head of Institutional Banking Group DBS Indonesia, di Jakarta (27/3/2025)
Kolaborasi menjadi kunci memperluas dampak. DBS Indonesia bekerja sama dengan UOB Indonesia dalam skema club loan senilai Rp1,7 triliun untuk mendanai pembangunan kampus data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik PT Princeton Digital Group (PDG). Proyek berkapasitas 22 MW ini dirancang untuk optimalisasi efisiensi energi di sektor digital. Sinergi juga terjalin dengan Asian Development Bank (ADB) melalui pendanaan US$15 juta untuk percepatan adopsi sepeda motor listrik di Indonesia lewat PT Electrum. Di sisi korporasi, kemitraan dengan TBS Energi Utama dalam akuisisi strategis perusahaan pengelola limbah medis terbesar di Singapura, Asia Medical Enviro Services (AMES), senilai USD33 juta, menjadi bukti nyata integrasi bisnis dan keberlanjutan. “Dukungan DBS tidak hanya membantu akuisisi, tapi juga mempercepat transformasi operasional kami menuju praktik bisnis yang bertanggung jawab,” ujar Dicky Yordan, CEO TBS.
Upaya ini tidak terlepas dari relevansinya dengan target pertumbuhan ekonomi 8%. Menurut Roadmap Keuangan Berkelanjutan OJK, pertumbuhan tinggi harus sejalan dengan pembangunan rendah karbon. Setiap proyek yang didanai DBS Indonesia—mulai dari data center ramah lingkungan hingga perluasan produksi biodiesel—tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi teknologi, dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Sebagai contoh, pengembangan sepeda motor listrik melalui Electrum berpotensi menghemat subsidi BBM hingga Rp5 triliun per tahun sekaligus membuka pasar baru di industri otomotif hijau.
Prestasi DBS Indonesia diakui secara global melalui penghargaan Indonesia’s Best Bank for ESG 2024 dari Euromoney dan World’s Best Bank for Sustainable Finance 2025 dari Global Finance. Namun, lebih dari sekadar apresiasi, langkah-langkah konkret ini menegaskan bahwa sektor keuangan mampu menjembatani celah antara keterbatasan anggaran pemerintah dan kebutuhan riil transisi energi.
Di tengah urgensi iklim dan ambisi pertumbuhan ekonomi, inisiatif DBS Indonesia menjadi bukti bahwa pembiayaan berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Seperti disampaikan Kunardy Lie, “Masa depan Indonesia ditentukan oleh kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan keberanian swasta untuk berinvestasi di hijau.” Dengan semangat ini, DBS Indonesia tidak hanya menjadi mitra tepercaya bagi nasabah, tetapi juga garda terdepan dalam mewujudkan mimpi Indonesia: pertumbuhan ekonomi tinggi yang berjalan beriringan dengan kelestarian alam.